Cari Blog Ini

Rabu, 06 Juni 2012

Bercermin (Lagi) dari Pendidikan Malaysia ·

Sebenarnya kisah yang hendak Anda baca ini adalah kisah basi. Bahkan bagi saya secara ekstrem ini menyebalkan. Kebenarannya sudah ada sejak Indonesia mengumandangkan ikrar Reformasi pada 1998. Di saat kita mengadu urat leher di parlemen dan beradu kebohongan di pengadilan, Malaysia melaju cepat di bidang pendidikan. Namun, mengingat pentingnya repetisi sebagai resep untuk melekatkan informasi di memori dan tindakan, menyampaikan ini juga perlu. Maka, secara ksatria kita harus akui (dan ini saya pikir tidak berlebihan) Indonesia terlalu loyo untuk mendahului Malaysia.
Memandang Malaysia sebagai negara tetangga yang memiliki kebudayaan yang sama, terutama bahasa, Presiden Soekarno pada tahun 1950-an membantu meningkatkan kualitas otak orang Malaysia dengan “mengekspor” guru-guru untuk mengajar di Malaysia. Bagi Malaysia sendiri guru-guru Indonesia dipandang sangat berkualitas. Pasalnya guru-guru di masa itu fasih berbahasa Belanda dan Inggris, serta memiliki dedikasi yang tinggi. Dan dari sisi gaji juga sangat besar. Hingga tahun 1960-an-1970-an kualitas pendidikan Indonesia sedikit lebih baik daripada negara Asia Tenggara lainnya. Di masa yang sama Malaysia menyekolahkan orang-orang terhebat mereka ke perguruan-perguruan tinggi berkelas di luar negeri. Sesudah tamat, mereka kembali ke tanah air dan menjadi pemimpin.
Beberapa dekade berikutnya hingga hari ini, dunia mengakui kehebatan Malaysia dalam bidang pendidikan daripada Indonesia. Perbandingan yang bikin miris adalah saat guru-guru di Indonesia punya pekerjaan ganda karena gaji terlalu kecil, di Malaysia guru-guru hidup dan berkarir lebih tenang karena digaji Rp 23 juta rupiah per bulan. Itu di luar tunjangan jabatan struktural. Maka tidak heran status sosial para guru di Malaysia sangat tinggi. Harum nama mereka.
Beberapa paten internasional datang dari sejumlah industri dan perguruan tinggi di Malaysia. Bahkan pada tahun 2011 Universitas Malaya (UM) menduduki posisi ke-167 dari 500 perguruan tinggi terbaik dunia versi Quacquarelli Symonds (QS) World University Ranking. Berikutnya adalah Universitas Kebangsaan Malaysia (279) dan Universitas Sains Malaysia (335). Sedangkan Indonesia disumbangkan oleh Universitas Indonesia di posisi ke-217 dan Universitas Gadjah Mada (342). Sedangkan menurut versi Times Higher Education World University Rankings 2009 Universitas Malaya menduduki posisi ke-180 dari 200 perguruan tinggi dunia. Faktor utama akan hal tersebut adalah betapa besarnya investasi Malaysia di bidang pendidikan tinggi dan produktifnya pelajar-pelajar tinggi Malaysia menulis di jurnal-jurnal internasional.
Hak tersebut pula menunjukkan percepatan pembenahan sumber daya manusia Malaysia sangatlah tinggi. Hasil kajian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2009, Human Development Index Malaysia menduduki ranking ke-59 dunia. Ini termasuk kategori tinggi (high human development) untuk negara-negara yang sedang berkembang. Sedangkan untuk Asia Timur dan Pasifik Malaysia menduduki posisi ke-9. Indonesia jauh berada di bawah Malaysia di posisi 111.
Ini pula menggambarkan perhatian di bidang pendidikan sangat besar, terutama mengucurkan uang yang berlimpah demi tercapaikan kualitas manusia yang diinginkan. Karena sumber daya manusia yang tinggi itu pulalah yang membuat kondisi ekonomi Malaysia sangat stabil. Bahkan pada resesi ekonomi dunia pada 1998 dan 2008, Malaysia cepat bangkit. Bahkan pada 1998 Malaysia berani tidak meminta sokongan dari IMF untuk mengatasi krisis ekonomi pada masa itu. Mereka percaya diri, karena cadangan devisa mereka sangatlah besar. Indonesia kebalikannya, meminta bantuan IMF, karena dinamika perdagangan loyo dan cadangan uang negara secara pasti berkurang karena aksi korupsi parah di hampir segala bidang.
Malaysia hingga saat ini masih memanjakan sekitar 27 juta jiwa rakyatnya dengan subsidi yang besar. Hal ini memungkinkan rakyat Malaysia menikmati berbagai kebutuhan dengan harga yang tidak terlalu tinggi. Gas dan listrik bisa dinikmati sepuasnya tanpa hidup-padam secara bergilir seperti di Indonesia. Harga bahan pokok tidaklah jauh berbeda dengan Indonesia, mengambil contoh antara Pulau Pinang dan Medan atau antara Kuala Lumpur dan Jakarta. Sebagai acuan lain nilai tukar uang Malaysia dan Indonesia berkisar antara Rp 2800-Rp 3000 per RM 1.
Walaupun mengaku sebagai negara berasaskan Islam, namun soal pergaulan Malaysia cenderung sekular. Termasuk Bahasa. Walau disebutkan bahasa resmi negara adalah Bahasa Melayu atau Malaysia, tetapi bahasa Inggris juga diizinkan di kehidupan pendidikan. Oleh sebab itu Malaysia lebih berpikiran terbuka yang mendorong corak pikirnya kerap tanggal pada perkembangan ilmu dan pengetahuan modern dunia. Kiblatnya lebih banyak ke Eropa dan Amerika.
Kebijakan politik pemerintah di bidang pendidikan memang diakui. Setiap perguruan tinggi negeri bahkan disubsidi hingga 25 persen dari APBN. Dan pelajar lokal yang mengambil program master, secara otomatis mendapatkan santunan dana pendidikan yang lumayan besar.
Orang Malaysia juga sangat senang belajar berdasarkan yang mereka minati. Bagi yang sangat cerdas, pihak pemerintah tidak segan-segan mengirimkan mereka belajar setinggi-tingginya kemanapun di dunia ini. Dan mereka diwajibkan kembali ke tanah air untuk mengamalkan ilmu yang didapatkannya. Maka, tidak heran dalam usia 30 tahun banyak orang Malaysia yang sudah bergelar doktor lulusan dalam dan luar negeri. Dalam hal ini orang Malaysia layak berterimakasih kepada Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohammad. Beliau memiliki program yang sampai kini menjadi dasar pijak kemajuan pendidikan Malaysia, yaitu dengan memanggil kembali orang-orang pintar dan berpengaruh Malaysia di perantauan kembali ke tanah ibu pertiwi dan memajukan negara. Di bumi Malaya kepada mereka sudah disiapkan berbagai fasilitas keilmuan yang diperlukan.
Bahkan dalam beberapa kasus orang-orang di luar Malaysia ada yang diberikan fasilitas tak terperikan untuk pengembangan di berbagai bidang. Bahkan di antaranya adalah orang Indonesia yang bahkan menjadi warga negara resmi di Malaysia. Ironis memang. Saat ini diperkiran ada ribuan dosen Indonesia menjadi pengajar di berbagai perguruan tinggi di Malaysia yang sebagian besar sebagai tenaga kontrak ataupun peneliti. Para dosen Indonesia itu tersebar Selangor, Johor. dan Melaka.
Faktor lainnya adalah kebiasaan menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari dan sebagai bahasa pengantar di berbagai sekolah termasuk perguruan tinggi di seantero negeri. Itulah sebabnya kami para pelajar di sini maklum jikalau berwicara dengan warga lokal, bahasa Melayu bercampur-campur dengan Bahasa Inggris. Maklum, mereka ini lama sekali dijajah orang Inggris. Budaya berbahasa Inggris kalau saya tafsirkan menjadi jalan utama mereka dalam pergaulan internasional, pada khususnya memperkenalkan Malaysia kepada dunia melalui promosi pariwisata. Kemampuan komunikasi ini dalam bidang pendidikan membuat Malaysia berjaya menghimpun berbagai orang dari seluruh belahan dunia belajar di Malaysia. Di Universitas Sains Malaysia (USM), Pulau Pinang misalnya dapat diibaratkan sebagai melting pot penduduk bumi. Sebut saja misalnya orang Afrika Selatan, Amerika Serikat, Inggris, Pelestina, Iran, Turki, Australia, Inggris, sampai tentu saja orang Indonesia yang menyumbang pelajar terbanyak, belajar di Malaysia. Pembicaraan dengan mahasiswa dari Arab Saudi belum lama ini mengakui biaya pendidikan tinggi di USM cukup berkualitas dengan biaya yang murah.
Kemudian yang tidak kalah penting adalah sejumlah perguruan tinggi di Malaysia menawarkan program by research untuk program pascasarjana. Program yang terbukti memikat ini memungkinkan para pelajar tidak menghadiri kelas, cukup membuat penelitian saja. Otomatis biaya kuliahnya pun lebih murah. Tradisi seperti ini banyak berkembang di Eropa sebagai cara yang mirip kelas jarak jauh. Ibarat ramuan tonik, inilah yang membuat jumlah pelajar asing di Malaysia ramai. Apalagi biaya hidup murah jika dibandingkan belajar ke Eropa atau Australia. Dosen-dosen dari Medan misalnya, banyak yang mengambil program by research ini sehingga memungkinkan dia tidak meninggalkan kewajiban mengajar. Program unggulan belum diikuti beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Namun, terakhir yang saya dengar Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta sudah memulainya pada tahun ini untuk beberapa program studi tertentu.
Di samping studi by research program pascasarjana lainnya adalah coursework. Yang satu ini biaya pendidikannya tergolong mahal, karena menitikberatkan pada praktik. Pelajar di masa akhir studi juga tidak ada kewajiban membuat tesis. Cukup membuat mini thesis, yang mirip makalah dan produk keluaran. Misalnya, pelajar yang mengambil screen studies (studi film dan televisi) diwajibkan membuat paket film pendek atau program siaran standar televisi.
Demikian pula program Sarjana Muda (Bachelor of Arts/B.A) tidak diwajibkan menghasilkan skripsi. Hal ini pulalah yang menjadi daya tarik, sebab tidak perlu pusing membuat penelitian yang rumit dan lebih banyak praktik kerja. Sebagai catatan program Sarjana Muda setara dengan program Diploma 3 di Indonesia, karena jumlah SKS-nya tidak sampai 144 yang menjadi standar pendidikan tinggi tingkat pertama di Indonesia. Atau dengan kata lain, seseorang lulusan B.A tidak bisa langsung melanjutkan program S2 di Indonesia. Kebalikannya, di Malaysia seorang bergelar B.A bisa langsung melanjutkan ke jenjang S2. Namun demikian beberapa perguruan tinggi di Indonesia menyiasatinya dengan cara melakukan penyetaraan terlebih dahulu melalui program semacam matrikulasi, sehingga Sarjana Muda lulusan Malaysia dapat belajar jenjang S2 di Indonesia.
Dan juga tidak kalah menariknya, dengan bekerjasama dengan perguruan tinggi ternama di Eropa, Amerika Serikat, dan Australia, Malaysia menawarkan double degree dan keabsahannya diakui di seluruh dunia. Program ini tentu saja menambah daya saing dan akses lulusannya di panggung antar bangsa.

Soal gaji para pendidik di Malaysia juga menarik dibahas. Gaji pokok seorang Guru Besar (yang sudah bersertikat pengajar profesional) di Indonesia yang bergolongan IV/C misalnya hanya bergaji sekitar 8,4 juta rupiah. Pastinya itu tanpa bantuan rumah dan fasilitas lainnya. Sedangkan di Malaysia untuk tingkat yang setara, seorang Guru Besar bisa membawa pulang ke rumah uang sebesar lebih dari Rp 40 juta. Itu belum termasuk fasilitas rumah, mobil dan dukungan kenyamanan yang lain.
Mendapatkan pendidikan di Malaysia bagi orang-orang asing tentulah berbanding lurus dengan kondisi keamanan dan kenyamanan hidup dan ditentukan kebijakan politik dan karakter kepemimpinannya.. Pasalnya pihak pemerintah dan negara secara politik dan hukum memiliki dominasi yang tinggi kepada rakyat. Kerajaan sangat sensitif terhadap aura-aura negatif politik di dalam negeri yang dirasakan dapat mengacaukan kondisi ekonomi, misalnya demonstrasi antipemerintah. Berkat hukum yang kuat, seperti Internal Security Act (ISA) yang sangat ditakuti, dinamika politik Malaysia relatif stabil. Belum lagi kalau menelisik persoalan tingkat korupsi yang sangat rendah berbanding Indonesia.
Seperti Indonesia, saat ini Malaysia tengah gencar membangun ekonominya menuju kemajuan besar hingga tahun 2020. Malaysia tidak muluk-muluk menjadi negara maju sekaligus super power seperti yang Indonesia impikan sekarang. Bagi mereka cukup menjadi negara yang makmur, kualitas SDM yang mumpuni, menekan angka kemiskinan, sekaligus mengurangi tingkat ketergantungannya dengan negara asing.
Di balik aksi Malaysia yang seenak udelnya mencaplok identitas kebudayaan Indonesia, kita sadari Malaysia memiliki banyak apa yang tidak kita punya. Memandang Malaysis dan berbangsa Indonesia seperti hari ini laksana cermin yang menunjukkan betapa buramnya Indonesia di beberapa segi yang sebenarnya bisa membuat tanah air beta ini harum mewangi. Saya pikir orang Indonesia di masa depan perlu lebih memupuk nilai-nilai kerjasama yang lebih kental dan itu paralel dengan sikap tegas negara terhadap tindakan korupsi dan segala wujud yang berpotensi mendatangkan ketidakamanan dan ketidaknyamanan. Dengan itu Indonesia saya yakin bisa lebih maju atau bersama-sama maju bersama Malaysia.
Kalau suka boleh like...

Komentar Facebook

Daftar Pengujung Baim Blog

Sms Gratis